EXERCISE 22 : USED TO page : 99
Supply the simple form or ( verb + ing ) as required in the following senteceses.
1. I was used to eating at noon when I started school
2. He used to eat dinner at five o’clock
3. When I was young, I used to swim every day
4. He used to like her, but he doesn’t anymore
5. Don’t worry. Some day you will get used to speak English
6. Alvaro can’t get used to study
7. He used to dance every night , but now he studies
8. Adam is used to sleep late on weekends
9. Chieko is used to eating American food now
10. She finally got used to eat our food
Page : 106
3. Marchela didn’t come to class yesterday. She may have had an accident
4. John didn’t do his homework, so the teacher became very angry. John must have done his homework
5. Sharon was supposed to be here at nine o’clock. She must have forgotten about our meeting
6. Where do you think juan is today ? I have no idea. He may have slept late
7. George missed class today. He might had had an accident
8. Robert arrived without his book. He could have lost it
9. Thomas received a warning for speeding. He shouldn’t have driven so fast
10. Henry’s car stopped on the highway. It may run out of gas
EXERCISE 26 : ADJECTIVE AND ADVERBS page : 107
1. Rita plays the violin ( good / well )
2. That is an ( intense / intensely ) novel
3. The sun is shining ( bright / brightly )
4. The girls speak ( fluent / fluently ) French
5. The boys speak Spanish ( fluent / fluently )
6. The table has a ( smooth / smoothly ) surface
7. We must figure our income tax returns ( accurate / accurately)
8. We don’t like to drink ( bitter / bitterly ) tea
9. The plane will arrive ( soon / sonly )
10. He had an accident because he was driving too ( fast / fastly )
EXERCISE 27 : LINKING ( COPULAIVE ) page : 109
1. Your cold sounds ( terrible / terribly )
2. The pianist plays very ( good / well )
3. The food in the restaurant always tates ( good / well )
4. The campers remained ( calm / calmly ) despite the thunderstorm
5. They became ( sick / sickly ) after eating the contaminated food
6. Professor calandra looked ( quick / quickly ) at the students sketches
7. Paco was working ( diligent / diligently ) on the project
8. Paul protested ( vehement / vehemently ) about the new proposals
9. Our neighbors appeared ( relaxed / relaxedly ) after their vacation
10. The music sounded too ( noisy / noisly ) to be classical
EXERCISE 28 : COMPARISONS page : 114
1. John and his friends left as soon as the professor had finished his lecture
2. His job is more important than his friends
3. He plays the guitar as well as Andreas Segovia
4. A new house is much more expensive than an older one
5. Last week as hot as this week
6. Martha is more talented than her cousin
7. Bill’s descriptions more colorful than his wife’s
8. Nobody is happier than Maria Elena
9. The boys felt worse than the girls about the game
10. A greyhound run faster than a Chihuahua
EXERCISE 29 : COMPARISONS page : 114
1. The empire state building is taller than the Statue of Liberty
2. California is farther from New York as Pennsylavia
3. His assignment is different than mine
4. Louie reads more quickly than his sister
5. No animal is so big from King kong
6. That report is less impressive than the government’s
7. Sam wears the same shirt as his teammates
8. Dave paints much more realistically than his professor
9. The twins have less money at the end of the month from they have at the beginning
10. Her sports car is different from Nancy’s
EXERCISE 30 : COMPARISONS page : 117
1. Of the four dress, I like the read one ( better / best )
2. Phil is the ( happier / happiest ) person that we know
3. Pat’s car is ( faster / fastest ) than Dad’s
4. The is the ( creamier / creamiest ) ice cream I have had in a long time
5. This poster is ( colorfuler / more colorful ) than the one in the hall
6. Does freed feel ( weller / better ) today than he did yesterday ?
7. This vegetable soup tastes very ( good / well )
8. While trying to balance the basket on her head, the woman walked ( awkwarder / more awkwardly ) than her daughter
9. Jane is the ( less / least ) atletic of all the woman
10. My cat is the ( prettier / prettiest ) of the two
Minggu, 18 Maret 2012
TUGAS SOFTSKILL EXERCISE
Tugas sofskil comparation
Pembahasan Comparison Degree
Comparison Degree atau Tingkat Perbandingan merupakan cara mengungkapkan kalimat untuk membandingkan sesuatu dengan yang lain. Perhatikan tabel berikut:
| Setara | Komparatif | Superlatif |
| as * as | *er than | the *est |
Dalam kalimat, simbol bintang (*) diganti dengan adjektif atau adverb. Perhatikan contoh kalimat berikut:
Susan is as tall as Fitri.
= Susan setinggi Fitri.
Jakarta is hotter than Bandung.
= Jakarta lebih panas daripada Bandung.
The house is the biggest in our neighborhood.
= Rumah itu paling besar di lingkungan kami.
Untuk kata sifat yang bersuku-kata lebih dari satu, tingkat komparatifnya tidak ditambahi dengan -er than, melainkan diawali more diikuti dengan kata sifat tersebut.
Sementara tingkat superlatif untuk kata sifat bersuku-kata lebih dari satu, diawali dengan the most, diikuti dengan kata sifat itu.
Perhatikan kalimat berikut:
Lucy is the most beautiful girl in our school.
= Lucy gadis yang paling cantik di sekolahan kami.
Tiger is the most dangerous animal in the world.
= Harimau adalah binatang yang paling berbahaya di dunia.
Berikut ini adalah beberapa kata sifat yang bentuk perbandingannya menjadi perkecualian:
| Setara | Komparatif | Superlatif |
| good | better | best |
Sumber : www.google.com
Rabu, 21 Desember 2011
Bagaimana Pandangan Etika Terhadap Praktik Bisnis Yang Curang
Bagaimana Pandangan Etika Terhadap Praktik Bisnis Yang Curang
Etika bisnis lahir di Amerika pada tahun 1970 an kemudian meluas ke Eropa tahun 1980 an dan menjadi fenomena global di tahun 1990 an jika sebelumnya hanya para teolog dan agamawan yang membicarakan masalah-masalah moral dari bisnis, sejumlah filsuf mulai terlibat dalam memikirkan masalah-masalah etis disekitar bisnis, dan etika bisnis dianggapsebagai suatu tanggapan tepat atas krisis moral. Pada masa ini sudah terlalu banyak prakti-praktik bisnis yang bermain curang untuk memuluskan jalan usaha mereka agar lebih maju padahal etika-etika dalam berbisnis sudah dipelajari dalam etika bisnis yang mengatur etika-etika yang baik dalam berbisnis. Etika berbisnis diterapkan pada sikap kehidupan berkantor, sikap menghadapi rekan-rekan bisnis, dan sikap di mana kita tergabung dalam organisasi. Itu berupa senyum, sebagai apresiasi yang tulus dan terima kasih, tidak menyalah gunakan kedudukan, kekayaan, tidak lekas tersinggung, kontrol diri, toleran, dan tidak memotong pembicaraan orang lain. Dengan kata lain, etiket bisnis itu memelihara suasana yang menyenangkan, menimbulkan rasa saling menghargai, meningkatkan efisiensi kerja, dan meningkatkan citra pribadi dan perusahaan.
Aktivitas Bisnis yang Terlarang :
- Menghindari transaksi bisnis yang diharamkan agama Islam. Seorang muslim harus komitmen dalam berinteraksi dengan hal-hal yang dihalalkan oleh Allah SWT. Seorang pengusaha muslim tidak boleh melakukan kegiatan bisnis dalam hal-hal yang diharamkan oleh syariah. Dan seorang pengusaha muslim dituntut untuk selalu melakukan usaha yang mendatangkan kebaikan dan masyarakat.
- Menghindari cara memperoleh dan menggunakan harta secara tidak halal. Praktik riba yang menyengsarakan agar dihindari, Islam melarang riba dengan ancaman berat .
- Perusahan dilarang membuang produk limbahnya mereka ke udara, sungai dan tanah. Hal ini kan menyebabkan tejadinya fenomena hujan asam, pemanasan global, dan ternacuni rantai makanan.
- Pemalsuan dan penipuan, Islam sangat melarang memalsu dan menipu karena dapat menyebabkan kerugian, kezaliman, serta dapat menimbulkan permusuhan dan percekcokan.
Contoh kasus bisnis yang bermain curang yang saat ini sedang buming atau sedang banyak diperbincangkan yaitu kasus penyedotan pulsa yang dilakukan oleh para operator – operator telepon selular tanpa sepengetahuan pemilik dari telepon selular tersebut. Jelas ini sangat merugikan para pelanggan pengguna telepon selular karna mereka merasa dibohongi dengan sms – sms yang dikirim oleh operator yang pada akhirnya menyedot pulsa mereka. Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring mengatakan, sebanyak 9.638 aduan kasus penyedotan pulsa yang dilakukan content provider melalui short code (4 nomor) masuk ke Badan Regulasi dan Telekomunikasi Indonesia (BRTI). Kasus itu terjadi sejak akhir Juli sampai Oktober 2011 .
Selain itu, kata Tifatul, ada sekitar 700 kasus penipuan dengan menggunakan nomor biasa yang diadukan ke BRTI. Salah satu contoh modus penipuan itu yakni "mama minta pulsa".
Hal itu dikatakan Tifatul saat rapat dengar pendapat dengan Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Senin (10/10/2011). Tifatul dipanggil untuk menjelaskan maraknya kasus penyedotan pulsa pelanggan.
Ia mengatakan, keluhan itu disampaikan pelanggan melalui call center 159 yang dibuka BRTI. Atas laporan itu, kata dia, Kemenkominfo hanya bisa meneruskan ke operator untuk ditindaklanjuti. Dalam UU Nomor 36 tahun 1999 tentang Telekomunikasi, Kemenkominfo hanya bisa mengatur operator.
Operator, kata Tifatul, diberi waktu 14 hari untuk menindaklanjuti laporan itu. Menurut dia, seluruh pengaduan berjumlah 9.638 itu telah ditangani operator. "Belum ada yang lebih dari 14 hari tidak ditangani. Adapun pengaduan setelah itu tetap berjalan," ucapnya.
Tifatul tak menjelaskan apa bentuk tindaklanjut dari operator. Dikatakan, tak ada niat operator untuk melakukan pencurian pulsa secara berencana. "Kita mengingatkan agar content providerblack list," kata dia. patuhi aturan. Kalau tidak, layak di-
Menurut Tifatul, sudah banyak content provider yang di-black list. Namun, tak diungkap berapa jumlahnya.
Rabu, 02 November 2011
Analisis penerapan etika bisnis di pt. astra internasional
Perubahan perdagangan dunia menuntut segera dibenahinya etika bisnis agar tatanan ekonomi dunia semakin membaik. Di dalam bisnis tidak jarang berlaku konsep tujuan menghalalkan segala cara. Bahkan tindakan yang berbau kriminal pun ditempuh demi pencapaian suatu tujuan. Perkembangan pesat teknologi setelah perang dunia kedua memacu dunia bisnis di negara - negara kapitalis menjadi semakin dinamis, tetapi sayangnya kurang disertai dengan pemikiran dan kesadaran moral para pelakunya, sehingga menimbulkan skandal - skandal bisnis yang merugikan masyarakat, seperti hancurnya enron dan Lehman Brothers. Oleh karena itu, sejak tahun 1970 - an, etika dalam dunia bisnis menjadi semakin sering dibicarakan dan dituntut realisasinya. Setiap perusahaan harus memastikan bahwa asas GCG (Good Corporate Governance) diterapkan pada setiap aspek bisnis dan di semua jajaran perusahaan jika tidak ingin mengalami hal sama dengan kasus Enron maupun Lehman Brothers. Menurut hasil penelitian SWA (2005), PT Astra Internasional Tbk (AI) merupakan salah satu perusahaan publik yang telah menerapkan tata kelola perusahaan. Astra Internasional berhasil bertahan setelah menerapkan tata kelola perusahaan sejak tahun 1987 (21 tahun). Dengan pengalamannya selama kurang lebih 50 tahun dan penerapan etika bisnis perusahaan selama 21 tahun, maka menjadi pertimbangan yang menarik untuk lebih meneliti AI dilihat dari etika bisnis yang telah diterapkan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan gambaran mengenai penerapan etika bisnis yang telah diterapkan perusahaan agar kasus Enron maupun Lehman Brother tidak terjadi di PT Astra Internasional, Tbk.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah penelitian ini adalah
(1) bagaimana karakteristik karayawan AI dan karyawan Outsourcing ?
(2) bagaimana penerapan etika bisnis AI terutama dari segi prinsip - prinsip GCG
(3) bagaimana manajemen hubungan antar pegawai, khususnya antara staff dan manajer AI serta karyawan outsourcing yang bekerja di AI, serta
(4) bagaimana pemahaman karyawan AI dan karyawan outsourcing terhadap budaya perusahaan.
Dari permasalahan yang diungkapkan, maka tujuan dari penelitian ini adalah:
(1) menganalisis karakteristik karyawan AI dan outsourcing yang diharapkan dapat memperkuat pemahaman responden terhadap etika bisnis
(2) menelaah penerapan etika bisnis AI terutama dari segi prinsip - prinsip GCG serta etika dalam bekerja.
(3) menganalisis manajemen hubungan antar pegawai mengenai pemahaman terhadap nilai - nilai etika bisnis perusahaan, khususnya antara staff dan manajer AI serta karyawan outsourcing yang bekerja di AI, dan
(4) menganalisis pemahaman karyawan terhadap budaya perusahaan.
Penelitian dilaksanakan di PT Astra Internasional, Tbk (AI), pada bulan Mei hingga Agustus 2008. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus secara kualitatif dan kuantitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder yang diperoleh melalui individual in - depth interview, observasi, penyebaran kuesioner, dan studi literatur. Metode pengambilan sampel yang dilakukan adalah non-probability sampling menggunakan purposive sampling untuk penentuan departemen dan karyawan outsourcing dan sensus untuk penentuan responden karyawan AI. Jumlah sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah 45 orang, terdiri dari 31 karyawan AI dengan posisi di bawah manajer, 3 karyawan AI dengan posisi manajer, dan 11 karyawan outsourcing. Teknik pengolahan dan analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif, uji Thurstone, uji Indeks Skoring, uji Rentang Kriteria, uji Mann Whitney, serta Uji Kruskal Wallis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sesuai dengan prinsip GCG, yaitu accountability, independency, transparency and disclosure, responsibility, serta fairness dan ditambah dengan honesty (kejujuran), ternyata bagi manajer dan karyawan outsourcing, honesty merupakan faktor yang paling diprioritaskan diantara prinsip - prinsip GCG lainnya. Prioritas selanjutnya adalah independency, transparency and disclosure, accountability, responsibility, dan terakhir adalah fairness. Tetapi bagi staff AI, ternyata prinsip terpenting adalah independency, dilanjutkan dengan responsibility lalu honesty. Penerapan etika dalam bekerja menempatkan kejujuran sebagai faktor yang paling diprioritaskan dan hampir semua responden mengatakan bahwa berpartisipasi dalam company event merupakan salah satu kegiatan perusahaan yang tidak harus menjadi prioritas utama, bahkan ditempatkan di pilihan terakhir dalam faktor penilaian etika dalam melaksanakan pekerjaan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa masih terdapat perbedaan pemahaman baik terhadap penerapan nilai - nilai etika bisnis perusahaan maupun budaya perusahaan. Oleh karena itu, walaupun masih dianggap wajar oleh perusahaan, tetapi hal ini harus menjadi lampu kuning bagi perusahaan untuk terus memantau perbedaan pemahaman baik terhadap penerapan nilai - nilai etika bisnis perusahaan maupun budaya perusahaan.